SELAMAT DATANG DAN MENIKMATI KUNJUNGAN ANDA DI BLOG SAYA

Senin, 21 Juni 2010

PERKEMBANGAN HACKER DI INDONESIA

Belakangan ini kehadiran dan aksi hacker mulai marak terjadi di dunia maya. Kontroversi mengenai definisi dan perilaku hacker telah pula menjadi sebuah wacana menarik bagi masyarakat moderen dalam era internet dewasa ini. Kehadiran buku-buku mengenai hacker dan berbagai kiat pekerjaannya telah pula mulai mewarnai ranah publik di Indonesia – terbukti dengan sangat lakunya publikasi tersebut dijual secara luas di pasar. Bahkan tidak tanggung-tanggung para praktisi teknologi informasi dan komunikasi dari negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura tidak jarang berkunjung ke Indonesia untuk mendapatkan buku-buku tersebut. Hal ini disebabkan tidak semata-mata karena buku-buku tersebut dijual dengan harga relatif murah, namun juga karena telah begitu banyaknya koleksi referensi yang diperdagangkan secara bebas di toko-toko buku terkemuka dengan kualitas konten yang dianggap baik. Tidaklah heran jika dalam hitungan hari, jumlah hacker amatir maupun profesional di Indonesia bertambah secara cukup signifikan. Tidak saja dipandang dari segi kuantitas semata, namun ditinjau dari segi kualitas, mereka cukup baik menguasai berbagai ilmu “hacking” dan relatif aktif “berkarya” di dunia maya. Berikut adalah sekelumit seluk beluk kehidupan mereka.


Hacktivism sebagai Sebuah Gerakan Komunitas

Istilah “hacktivism” mengacu pada sebuah inisiatif dankegiatan yang berfokus pada tindakan melakukan “hacking” karena atau untuk alasan tertentu. Alasan yang dimaksud dapat beraneka ragam. Dalam sejumlah referensi yang ada, paling tidak ada 4 (empat) alasan mengapa para hacker melakukan aksi “hacktivism”-nya. Pertama, adalah untuk mencari “sensasi diri”. Perlu diperhatikan, generasi yang lahir setelah tahun 85-an telah terbiasa dengan keberadaan komputer di lingkungannya, berbeda dengan mereka yang lahir di masa-masa sebelumnya. Jika generasi lama merasakan sebuah “sensasi diri” yang menyenangkan dengan cara bermain catur, mengisi teka teki silang, bermain kartu “truft”, menyelesaikan misteri cerita detektif, dan lain sebagainya – maka generasi baru mendapatkan “sensasi diri” yang sama dengan cara “utak-atik” atau “ngoprek” komputer, bermain game, dan tentu saja melakukan kegiatan “hacking”. Jika pada jaman dahulu pemain catur merasa tertantang jika harus “membunuh” raja dengan dua kuda, maka saat ini hacker merasa tertantang jika dapat masuk ke sebuah sistem tertentu yang dianggap sulit untuk dipenetrasi. Senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, tindakan melakukan “hacking” tersebut telah berhasil menstimulus hormon-hormon dalam tubuh manusia masa kini yang memberikan sebuah sensasi tersendiri secara alami. Kedua, adalah untuk melakukan kejahatan. Bukan rahasia umum bahwa di negara-negara maju misalnya, telah banyak “berkeliaran” para hacker profesional yang tugasnya adalah melakukan kejahatan terorganisasi. Kejahatan yang dimaksud sifatnya beraneka ragam, mulai dari tindakan kriminal berlatar belakang ekonomi dan keuangan (seperti: perampokan bank, penipuan transaksi, pencucian uang, pencurian surat berharga, dan lain sebagainya), hingga yang bersifat kejahatan sosial (seperti: pencemaran nama baik, perusakan citra individu, pembunuhan karakter, pembohongan publik, dan lain sebagainya). Mereka ini biasanya dibayar mahal oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan kejahatan tersebut. Ketiga, adalah untuk menjalankan aktivitas terorisme. Di jaman moderen ini para teroris melihat bahwa internet dan dunia maya merupakan lahan dan media yang cukup efektif untuk melakukan aktivitas teror dimana-mana. Sasaran “terrorist hacker” biasanya adalah critical infrastructure alias obyek-obyek vitas sebuah negara seperti: perusahaan listrik, instalasi militer, pusat transportasi publik, sentra-sentra keamanan negara, jaringan keuangan perbankan, dan lain sebagainya. Karena kebanyakan organisasi-organisasi ini telah belibatkan teknologi informasi dan internet sebagai bagian tak terpisahkan dari aktivtas operasionalnya, maka penyerangan terhadap sistem jaringan dan komputer yang dimiliki akan mendatangkan dampak teror yang luar biasa. Dengan melakukan penyerangan terhadap obyek-obyek vital ini, maka pesan dibalik aksi terorisme yang dilakukan diharapkan dapat sampai ke pihak-pihak pemangku kepentingan yang menjadi sasaran. Keempat, adalah untuk alasan intelijen. Seperti diketahui bersama, setiap negara pasti memiliki jaringan intelijen di dalam dan di luar negeri untuk keperluan pertahanan dan keamanan nasional. Karena saat ini seluruh percakapan, interaksi, komunikasi, diskusi, kooperasi, transaksi, dan negosiasi dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan intenet, maka kegiatan intelijen-pun mulai masuk ke ranah ini. Dalam konteks inilah maka dibutuhkan sejumlah hacker profesional yang dapat membantu melakukan kegiatan intelijen demi keutuhan negara ini. Lihatlah bagaimana Amerika dengan lembaga NSA (National Security Agency) merekrut dan mendidik sedemikan banyak hacker dengan intelegensia dan keahlian tinggi untuk membantu mereka melaksanakan tugas kenegaraannya.

Beragam Tipe Hacker
Dengan berlatarbelakang penjelasan sebelumnya, dan dilihat dari sisi atau motivasi seorang hacker melakukan aktivitas yang menjadi bidang keahliannya, dunia internet kerap mengkategorikan hacker menjadi empat tipe, masing-masing adalah sebagai berikut:

1.Black Hats – merupakan kumpulan dari individu dengankeahlian tinggi di bidang keamanan komputeryang memiliki motivasi untuk melakukan tindakan-tindakan destruktif terhadap sistem komputer tertentu yang menjadi sasarannya demi mendapatkan sejumlah “imbalan” tertentu (dalam dunia kejahatan internet hacker ini dikenal sebagai crackers)

2.White Hats – merupakan kumpulan dari profesional yang memiliki keahlian di bidang internet yang bertugas untuk menjaga keamanan sebuah sistem komputer agar terhindar dari tindakan yang merugikan dari pihak-pihak yang menyerangnya (dalam dunia internet hacker ini dikenal sebagai security analysts)

3.Gray Hats – merupakan kumpulan dari orang-orang yang terkadang melakukan kegiatan yang bersifat offensive namun di lain waktu melakukan kegiatan yang bersifat deffensive terkait dengan keamanan sebuah jaringan komputer

4.Suicide Hackers – merupakan kumpulan dari mereka yang dengan sengaja memiliki visi utama menyerang obyek-obyek vital kenegaraan untuk tujuan tertentu dan tidak khawatir terhadap ancaman perdata maupun pidana yang mengincarnya.

Dengan berkaca pada berbagai seluk beluk hacker ini, dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya istilah “hacker” di mata praktisi teknologi informasi dan internet tersebut sebenarnya bersifat netral. Namun kesalahpahaman definisi yang menjadi persepsi masyarakat menempatkan istilah “hacker” pada suatu pengertian yang bernuansa negatif, sehingga sering kali kegiatan “hacktivism” dianggap sebagai tindakan kriminal yang senantiasa melawan hukum. Melalui sosialisasi yang tepat dan strategi yang baik, keberadaan para individu hacker yang berkembang di masyarakat dapat dijadikan sebagai sebuah kesempatan untuk meningkatkan kinerja keamanan beraneka ragam sistem komputer yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia agar tidak terhindar dari serangan dan penetrasi pihak luar yang dapat merugikan bangsa dan negara

0 komentar: